https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Rebahan yang Ditakuti Negara

Artikel Rebahan yang Ditakuti ditulis oleh Dekan FEB Universitas Trisakti Prof. Yolanda Masnita Siagian-Sumber Foto: Dok. pribadi-

Bedanya cuma di cara meresponsnya. Orang Jepang yang tertekan cenderung menghilang secara diam-diam dan individual, sementara anak muda China memilih bertahan di tempat tapi menarik diri secara kolektif dari partisipasi ekonomi dan sosial.

Pelajaran Buat yang Bergelut di Dunia Pemasaran

Kalau saya coba tarik benang merahnya, tang ping ini semacam pengingat keras buat siapa pun yang bekerja di dunia pemasaran atau bisnis: jangan pernah menganggap keinginan konsumen sebagai sesuatu yang otomatis dan konstan.

BACA JUGA:Kabar Gembira! J&T Express Perluas Pengiriman ke 60+ Negara, Kirim ke AS dan Eropa Kini Lebih Mudah

BACA JUGA:Polda Sumsel Tahan 3 dari 15 Tersangka Sindikat Kredit Fiktif, Berikut Kerugian Negara

Selama ini banyak model bisnis dibangun dengan asumsi generasi berikutnya akan terus mengikuti pola konsumsi generasi sebelumnya: kerja keras, naik kelas sosial, beli rumah, beli mobil, punya keluarga, lalu ulangi siklusnya lagi ke anak-anaknya. Tang ping membuktikan asumsi itu bisa runtuh kalau tekanan hidupnya sudah melewati titik yang wajar.

Dan ada satu hal lagi yang menarik: reaksi negara terhadap tang ping justru menunjukkan sesuatu yang jarang kita sadari, yaitu bahwa negara sendiri sebenarnya berperilaku seperti pemain pasar raksasa.

Negara juga punya kepentingan supaya "demand" tetap tinggi, karena pertumbuhan ekonomi nasional pada akhirnya bergantung pada rakyatnya yang terus bekerja, terus berbelanja, terus punya anak yang nantinya jadi tenaga kerja dan konsumen baru lagi.

Begitu sebagian besar warganya justru memilih keluar dari siklus itu secara sukarela, negara jadi punya insentif yang sama seperti perusahaan yang kehilangan pelanggan: mencoba segala cara untuk mengembalikan keinginan itu, mulai dari pidato pejabat, sampai -- dalam kasus paling ekstrem -- membingkainya sebagai ancaman keamanan.

BACA JUGA:Kejati Sumsel Selamatkan Uang Negara Rp904 Miliar, Kajati: Tidak Ada Perkara Mangkrak

BACA JUGA:Komitmen Jaga Ketahanan Energi, SKK Migas Gelar Diksar Bela Negara Angkatan IV Tahun 2026

Penutup: Rebahan sebagai Bentuk Perlawanan Paling Sunyi

Kalau saya lihat lebih jauh, ada semacam ironi menarik di sini.

Tang ping lahir dari kelelahan personal seorang pemuda yang cuma ingin naik sepeda ke Tibet dan hidup lebih tenang. Tapi karena dilakukan oleh cukup banyak orang secara bersamaan, tindakan personal yang kelihatannya sepele itu berubah jadi isu ekonomi nasional, bahkan isu keamanan negara.

Ini mengingatkan pada pembelajaran bahwa pasar dalam kasus ini bahkan negara sekalipun pada dasarnya sangat rapuh terhadap perubahan kolektif dalam keinginan manusia.

BACA JUGA:Titip Uang Pengganti Rp348 Juta, Kerugian Negara Kasus Pompa Muratara Masih Tinggal Ini Jumlahnya

BACA JUGA:Kejati Sumsel Pamerkan Tumpukan Uang Rp219 Miliar, Pelunasan Kerugian Negara Kasus Korupsi Kredit Perbankan

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google