Di mana popularitas nama keluarga itu seringkali menjadi faktor penentu kemenangannya dibandingkan dengan calon pemimpin yang merintis sendiri.
Di mana semua kasus ini menunjukkan bahwa kepopularitasan calon memimpin menutupi kompetensi calon lain dalam bersaing untuk menang.
Pertanyannya, mengapa popularitas itu seringkali menjadi faktor penentu kemenangan dalam pemilihan?
BACA JUGA:Hak Tolak Wartawan! Mahasiswa Universitas Andalas: Kuasa Absolut Sembunyikan Identitas Narasumber
BACA JUGA:PENTING! Mahasiswa Universitas Andalas Bagi 4 Tips Dasar Kesiapsiagaan Sebelum Terjadi Bencana Alam
Kenapa masyarakat masih tetap memilih pemimpin yang populer tapi tidak berkualitas.
Tidak bisakah membuka mata dan melihat pemimpin mana yang lebih pantas untuk di jadikan pedoman dalam menentukan arah, kebijakan, dan pembangunan negara menuju yang lebih baik.
Memang masyarakat seringkali dilema pada pilihan yang sulit untuk menentukan antara pemimpin yang populer atau pemimpin yang kompeten.
Karena keduanya memiliki daya tarik masing-masing yang membuat masyarakat sulit unutk memilih, namun keduanya juga memiliki kekurangannya.
BACA JUGA:Mahasiswa Universitas Andalas Kaji Peran Penting Pendidikan dalam Membentuk Identitas Sosial
Bisa jadi jawabannya, karena banyak pemilih yang lebih memilih pemimpin yang mereka kenal dan sukai, daripada memilih calon pemimpin yang memiliki rekam jejak yang baik dalam bidang pemerintahan.
Serta peran media massa, terutama media sosial, sangat berpengaruh dalam membentuk opini publik.
Di mana calon pemimpin pandai memanfaatkan media sosial untuk lebih mudah meraih popularitas.
Karena di tengah zaman yang serba canggih ini memudahkan siapapun untuk meyebarluaskan sesuatu infotainment atau hiburan yang membuat pemilih terbawa pendekatan psikologis.