Dr. Zamzam juga menyoroti kesulitan dalam menggunakan piranti hukum untuk menciptakan masyarakat yang tertib.
Dia mengusulkan bahwa solusinya bukan terletak pada hukum, melainkan pada pengembangan literasi digital.
“Yang paling bisa dilakukan, itupun tidak akan menyeluruh, apa yang disebut sebagai literasi digital, itu harus diajarkan sejak kecil dari sejak TK, SD," cetusnya.
Menurut dia, literasi digital bukan hanya bertindak secara beradab dan mengikuti norma dalam beraktivitas di dalam digital.
Melainkan juga ikut memahami konsekuensi apa yang mengancam dia sendiri, misalnya soal privasi, pengambilan data.
BACA JUGA:8 Ide Bisnis Menjanjikan di Tengah Era Digital, Tak Ribet, Untung Mantap!
BACA JUGA:Keterampilan Abad 21: Mempersiapkan Generasi Masa Depan Dalam Era Digital Pada Peserta Didik
Dia menilai pendekatan yang ada saat ini, seperti program yang dijalankan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) belum sepenuhnya efektif.
“Sudah dibuat modul namun tidak pernah dipakai untuk di pangajaran dan yang terjadi adalah literasi digital Kominfo sekarang dijadikan seperti seminar, yang ngomong ahli digital dan para pejabat ikut ngomong,” cetus dia.
Selanjutnya, Dr. Zamzam menyoroti Festival Literasi Digital di Yogyakarta dan Indonesia umumnya, yang menurut dia lebih berfokus pada pertunjukan musik ketimbang edukasi.
"Festival ini seharusnya menjadi wadah untuk meningkatkan pemahaman tentang literasi digital, tetapi kenyataannya diisi lebih banyak oleh pertunjukan band," ujarnya.
Lebih jauh Dr. Zamzam berharap agar semua pihak lebih serius dalam menangani dilema kebebasan berpendapat di dunia digital, serta memperkuat edukasi literasi digital untuk menciptakan masyarakat yang lebih sadar akan hak dan tanggung jawab mereka di era informasi ini.