https://palpres.bacakoran.co/

Google Advertisement Below

Artikel Kurma: Paradigma Antara Ramadan Berkah Dan Musibah

paradigma antara Ramadan berkah dan musibah dalam perspektif syariah-chatgpt-

Oleh: Muhammad Izzi, S.H., M.H. (Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Raden Fatah Palembang)

KORANPALPRES.COM - Bagi kita umat Muslim, kedatangan bulan Ramadan selalu disambut dengan ucapan “Ramadan Mubarak” bulan yang penuh berkah.

Namun, Benarkah yang kita jemput adalah keberkahan, atau jangan-jangan kita sedang menciptakan musibah berjamaah dalam bungkus ibadah?

Cara pandang kita terhadap Ramadan seringkali terjebak pada ritual fisik semata. Kita sibuk menahan lapar di siang hari, tapi menjadi monster konsumsi saat bedug Maghrib tiba. Di titik inilah, garis antara berkah dan musibah menjadi sangat tipis.

BACA JUGA:Artikel Kurma: Nilai-Nilai Keutamaan Bulan Ramadan dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern

Paradigma adalah kacamata yang kita gunakan untuk melihat kenyataan. Jika kacamatanya salah, maka perilaku yang muncul pun akan keliru.

Secara etimologi, berkah berasal dari kata barakah yang berarti ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan). Dalam QS. Al-A’raf Ayat 96 Allah SWT berfirman: 

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”

Makna keberkahan di bulan Ramadan sejatinya merupakan perpaduan antara ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan) dan dawamul khair (ketetapan kebaikan).

BACA JUGA:ARTIKEL KURMA: Puasa Ramadhan sebagai Pilar Ketahanan Keluarga

Dalam tinjauan syariah, berkah bukan berarti melimpahnya materi secara kuantitas, melainkan hadirnya nilai manfaat yang membawa ketenangan jiwa dan ketaatan kepada Allah.

Ramadan disebut berkah karena di dalamnya terdapat keutamaan yang tidak dimiliki bulan lain, di mana setiap amal saleh dilipatgandakan pahalanya dan pintu taubat dibuka selebar-lebarnya. 

Keberkahan ini laksana oase yang menyuburkan spiritualitas umat; ia harus dirasakan melalui perubahan perilaku dari yang buruk menjadi baik, serta dari yang baik menjadi lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Inilah esensi dari janji Allah bahwa keberkahan itu akan tumpah dari langit dan bumi apabila ketakwaan kolektif benar-benar diwujudkan, bukan sekadar dirayakan secara seremonial. Ramadan adalah momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan

Iklan Google